Cara Mengatur Uang Saat Ketiban 'Rejeki Nomplok'

Cara Mengatur Uang Saat Ketiban ‘Rejeki Nomplok’

Sepekan terakhir, kisah mengenai satu desa yang mendadak tajir ramai dibicarakan publik.

Mereka adalah warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban yang baru meraup miliaran rupiah setelah menjual tanah untuk proyek kilang minyak Pertamina.

Dalam video yang banyak beredar di media sosial, terlihat deretan mobil baru yang datang secara bersamaan.

Tak tanggung-tanggung, jumlah mobil itu mencapai 176 unit.

Bahkan banyak warga yang langsung membeli dua hingga tiga mobil baru.

Karena jumlahnya sangat banyak, kendaraan tersebut dibawa dengan truk trowing dan dikawal oleh polisi.

Jika kaya mendadak seperti warga di Tuban ini, bagaimana cara mengatur dan mengelola keuangan?

Perencana keuangan Eko Endarto mengingatkan bahwa mendapatkan kekayaan lebih mudah daripada mempertahankannya.

“Yang sering terjadi, orang tiba-tiba dapat uang gusuran, jual tanah, berarti kan mudah mendapatkannya, tapi untuk mempertahankannya dalam jangka waktu tertentu agak sulit,” kata Eko.

“Sehingga di sinilah pentingnya perencanaan dalam hal pengelolaan aset,” lanjut dia.

Menurut dia, kejadian yang dialami warga Tuban sebenarnya mengubah aset tetap menjadi cash.

Untuk itu, perlu dikembangkan suatu rencana untuk mengubah aset cash menjadi aset tetap lagi atau bahkan aset produktif.

Oleh karena itu, aset tersebut tidak hanya digunakan untuk keperluan konsumsi.

“Misalnya, kan ada yang beli mobil, tetapi tidak bisa menyetir. Karena itu, harus dipikir dalam-dalam, karena kendaraan ini kan harganya terus turun,” kata Eko.

“Jadi mau tidak mau mereka harus berpikir cari aset yang bisa meningkat harganya, bukan menurun,” lanjut dia.

Dia mencontohkan warga bisa menggunakan aset cash untuk membeli lebih tanah lagi, membuat kontrakan, membangun ruko, atau mendirikan warung makan.

Pasalnya, jika suatu daerah memiliki potensi maju, maka semua aset tersebut akan menguntungkan.

Prioritas

Eko juga menjelaskan ada tiga prioritas utama saat mendapatkan “rejeki nomplok”. Pertama, lunasi utang bagi yang memiliki.

Kedua, menentukan gaya hidup.

“Kenapa? Dengan uang banyak itu tadi yang ditakutkan gaya hidup mereka meningkat. Masalahnya, kalau udah meningkat, biasanya turunnya susah,” ujar Eko.

“Misalnya, sekarang sudah punya mobil, pasti besok-besok akan bicara beli mobil terus. Karenanya penting mengetahui seperti apa gaya hidup yang mereka putuskan,” kata dia.

Ketiga, masa depan atau pengembangan aset, seperti membeli tanah, memulai bisnis atau setidaknya membeli emas.

Source: kompas